Banyak Karyawan Resign, Mungkin Ini Penyebabnya

Katuju.id - pemecatan karyawan atau pemutusan hubungan kerja bukanlah hal baru di dunia kerja. Namun belakangan ini ada fenomena baru yaitu karyawan dengan sukarela mengundurkan diri atau resign dari tempatnya bekerja. Bahkan bukan hanya karyawan biasa, tetapi juga karyawan terbaik yang memiliki kemampuan yang mumpuni dengan prestasi cemerlang di kantor. 

Berdasarkan temuan Robert Walters Asia yang telah melakukan survei kepada 771 pencari kerja dan 496 manajer perekrutan di Asia, termasuk Indonesia, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (11/6/2019), ada lima alasan utama karyawan mengundurkan diri, yaitu: 

  • Merasa digaji rendah
  • Tidak lagi tertantang
  • Merasa diremehkan 
  • Budaya perusahaan tidak lagi cocok 
  • Terbatasnya pertumbuhan perusahaan
hipwee.com

Sementara, Harvard Business Essentials dalam bukunya “Hiring and Keeping the Best People” membagi 4 alasan terbesar pengunduran diri seorang karyawan, yakni: 

  • Pergeseran kepemimpinan perusahaan, 
  • Konflik dengan atasan langsung
  • Teman sekantor mengundurkan diri
  • Perubahan tanggung jawab yang tidak menguntungkan. 

Keluar masuknya karyawan secara berlebihan tentunya akan merugikan perusahaan karena turunnya produktivitas, waktu dan biaya pelatihan yang meningkat, waktu rekrutmen dan seleksi yang meningkat, efisiensi kerja yang menurun, dan kerugian tidak langsung lainnya seperti layanan pelanggan dan komitmen. 

Selain alasan-alasan tersebut ternyata masih ada alasan lainnya yang membuat karyawan melakukan pengunduran diri. Bisa jadi salah satunya adalah alasan yang membuat kamu mengundurkan diri dari tempat kerja:  

1. Mencoba tantangan baru 

Bagi beberapa karyawan, bekerja disebuah perusahaan memang dijadikannya sebagai uji tantangan terhadap kemampuan dirinya. Tak hanya itu banyak kesempatan usaha yang terbuka di luar sana. Jadi tak heran orang-orang berlomba-lomba membuat usaha rintisannya sendiri. 

Maka ketika tantangan yang mereka jalani di tempat kerja ternyata sudah tak ada lagi menantang, apalagi jika pekerjaan mereka tak dihargai, karyawan yang seperti ini bisa saja memutuskan untuk resign (berhenti). Kemudian mereka akan mencari pekerjaan baru yang bisa menjadi tantangan baru untuk dirinya.  

kaskus.co.id

2. Lingkungan kerja yang tidak nyaman

Perusahaan atau kantor memang bisa saja menjadi rumah kedua bagi para karyawan. Namun disisi lain perusahaan juga bisa menjadi neraka atau tempat yang sangat dibenci oleh karyawan.  

Faktor kenyamanan memang merupakan sesuatu yang sangat berpengaruh pada betah atau tidaknya karyawan di perusahaan. Lingkungan yang nyaman dari perusahaan tidak hanya akan membuat karyawan betah, namun akan membuat produktivitas karyawan semakin meningkat. 

linovhr.com

3. Pola kerja yang monoton dan membosankan 

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Ia selalu bergerak mencari hal yang baru dan tantangan. Bahkan bila sebuah pekerjaan dihadapkan pada rutinitas yang monoton, besar kemungkinan karyawan akan meninggalkannya karena rasa bosan. 

4. Menetapkan aturan yang kurang penting 

Sebuah studi yang dilakukan kepada 2.000 karyawan di London menyimpulkan bahwa 28% dari pekerja kantoran merasa perusahaan telah menerapkan aturan yang kurang penting. Hingga pekerjaan mereka yang lebih penting untuk memajukan perusahaan tersita waktunya hanya karena aturan yang tidak penting tersebut. 

Dr. Travis Bradberry, pendiri TalentSmart, pengelola lembaga riset kecerdasan emosional, dikutip dari smart-money.co, menyebutkan bahwa aturan adalah bagian dari budaya kerja perusahaan. Tapi tidak harus kaku dan dipaksakan hanya untuk sekedar menertibkan karyawan atau menunjukan kekuasaan seorang atasan atau pimpinan. Memperlakukan karyawan lebih manusiawi adalah pendekatan yang terbaik yang bisa dilakukan orang-orang di level pimpinan maupun perusahaan pada karyawannya. 

jadikaryawan.com

5. Menganggap semua karyawan sama

Karyawan bukanlah murid taman kanak-kanan yang harus diperlakukan sama, mereka memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda. Memperlakukan karyawan layaknya robot juga tidak akan menghasilkan hal yang positif bagi perusahaan maupun bagi mereka sendiri. Bisa jadi karyawan lebih memilih untuk mengundurkan diri.

Pasalnya, setiap karyawan bertanggung jawab penuh atas tugas dan target yang harus dicapai. Memberikan kebebasan penuh kepada setiap individu untuk bekerja dan berkarya sesuai dengan kapabilitas semaksimal mungkin akan memberikan kenyamanan dalam menuntaskan tugas-tugas mereka. Hingga peran aktif dan tanggung jawab karyawan menjadi lebih dinamis, transparan, dan berkembang seiring perubahan organisasi. 

qerja.com

6. Ada intrik dan drama di tempat kerja 

Intrik dan drama bisa terjadi di mana saja, termasuk di kantor juga bisa terjadi. Berawal dari perasaan iri pada karyawan lain yang punya prestasi terbaik atau pada karyawan yang bekerja biasa saja tapi mereka loyal, jujur dan dapat dipercaya. Sehingga rasa iri ini menciptakan kompetisi yang tidak sehat. 

Intrik dan drama ini bisa menimbulkan konflik, baik konflik antara karyawan dengan karyawan lain, atau antara karyawan dengan pimpinan. Hal tersebut jika tidak segera ditangani dengan baik, bukan tidak mungkin menimbulkan ketidaknyamanan dan hingga akhirnya berakhir dengan pengunduran diri salah satu pihak bahkan bisa jadi kedua belah pihak. 

7. Memaklumi hal-hal yang buruk 

Memaklumi dan melindungi hal-hal buruk yang terjadi dalam sebuah perusahaan atau yang dilakukan karyawan akan menurunkan reputasi perusahaan itu sendiri. 

Jeff Hayden, seorang motivator sekaligus editor Inc.com, menjelaskan bahwa saat ada karyawan sering mencari alasan untuk sebuah pembenaran, menggagalkan ide atau pekerjaan karyawan lain, melakukan hal-hal yang tidak pantas, namun dibiarkan, maka ini akan berbahaya bagi keberlangsungan sebuah perusahaan. 

Aura negatif ini bisa menular kemana-mana termasuk ke meja karyawan lain, baik karyawan berprestasi maupun yang biasa-biasa saja. Alhasil mereka juga ikut-ikutan ragu terhadap kebijakan perusahaan yang lebih memaklumi hal-hal buruk/negatif yang terjadi dan akhirnya mereka lebih memilih untuk resign dari pekerjaan mereka.

Boxcareer.com

8. Tidak percaya pada karyawan

Seperti dikutip dari jadikaryawan.com, mempekerjakan seseorang berarti atasan harus siap mendelegasikan tugas-tugas kepada mereka. 

Selama karyawan tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum (penggelapan, penipuan, memalsukan atau membocorkan data perusahaan, dan pelanggaran hukum lainnya) maupun tidak melanggar aturan perusahaan yang berlaku, berikan mereka kepercayaan untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Sesekali mengecek hasil kerja mereka tentu diperbolehkan.

Namun ketika atasan selalu mempertanyakan dan harus selalu tahu atau memonitor proses pekerjaan anak buahnya, bisa-bisa mereka frustrasi karena atasan tidak percaya pada pengalaman maupun kemampuan mereka sebagai elemen penting untuk perusahaan. 

qerja.com

9. Menganggap karyawan resign karena alasan lain

Yang paling mengerikan adalah apabila para pemimpin atau atasan tidak menyadari kalau mereka adalah alasan yang sebenarnya mengapa karyawan terbaik yang dimiliki sebuah perusahaan maupun karyawan biasa memutuskan untuk resign. 

Perusahaan mungkin mengira mereka resign karena stress kerja. Padahal alasan yang lebih tepat bisa jadi atasan merekalah yang bikin stress. Pasalnya, tidak mungkin karyawan bicara blak-blakan atau jujur mengenai alasan yang sebenarnya pada pimpinan atau pada bagian HRD. 

Memiliki atasan yang hanya peduli pada segelintir karyawan yang disukai namun tidak peduli pada karyawan lainnya, termasuk tidak peduli pada hal-hal yang lebih penting dari pekerjaan seorang karyawan sering menjadi alasan utama seorang karyawan resign kerja. 

ruang kerja yang bikin betah/karir.com

Hasil survei 

Hasil survei tentang “Potret perilaku profesional berdasarkan usia dan level pekerjaan di kota besar di Indonesia,” yang dilakukan Karir.com, menanyakan kepada 6.530 responden, apa yang membuat seorang karyawan betah berkarir di suatu perusahaan dan juga analisis berdasarkan gender, menunjukan: 

karir.com

Selain alasan tentang gaji, alasan lainnya dari hasil survei ini adalah sebagian besar responden memilih suasana kerja, sebesar 42%, disusul dengan jenjang karir sebesar 22%, dan lokasi kantor sebesar 19%. Reputasi dan kultur perusahaan, juga CEO, tidak menyita terlalu banyak perhatian, yakni hanya 9% dan 1%. 

karir.com

Temuan survei ini menjadi semakin menarik ketika hasil analisa dipisahkan berdasarkan gender. Baik responden laki-laki maupun perempuan menyatakan suasana kerja adalah faktor yang paling penting, ditunjukkan dengan persentase sebanyak 37% dan 43%. 

Suasana kerja ternyata memegang peranan paling penting! Banyak perusahaan yang kini berusaha meningkatkan kenyamanan suasana kerja, seperti: menerapkan jam kerja yang fleksibel, menyediakan ruang menyusui, ruang bermain atau ruang santai yang tetap bisa digunakan sambil bekerja, adanya kebijakan boleh bekerja dari rumah, hingga makan siang gratis. 

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.