Ancaman Tinja Mencair di Taman Nasional Denali

Katuju.id - Perubahan iklim adalah musuh nyata yang dihadapi oleh para penduduk bumi, salah satu ranah yang terdampak langsung oleh perubahan iklim adalah pariwisata


Naiknya permukaan air laut, pemanasan global, hingga cuaca ekstrim adalah beberapa dampak buruk dari perubahan iklim yang kerap dibahas dan dikampanyekan untuk mencegah kehancuran bumi.


Mengutip USA Today, Selasa (2/4), perubahan iklim membawa dua buah kabar, baik dan buruk, yang datang dari Amerika Serikat bagian Utara.



Untuk kabar buruknya, 'harta karun' berupa tinja manusia yang telah terkubur puluhan tahun di Taman Nasional Denali, Alaska, Amerika Serikat, diprediksi akan mencair dalam waktu dekat. 


Sedangkan kabar baiknya adalah untuk pertama kali kegiatan bersih-bersih masal untuk membawa turun 'fosil' tinja, akan dilakukan dan melibatkan sekitar 1.200 orang pendaki. 


PILIHAN REDAKSI






Masalahnya adalah prediksi mencairnya tinja di Taman Nasional Denali  akan terjadi pada musim panas tahun ini, sedangkan ribuan pendaki   tersebut harus bergerak lebih cepat dan bekerja sangat berat untuk     membawa turun limbah itu dari ketinggian 4.267 meter di atas     permukaan laut (Mdpl).

Para pendaki biasanya menuntaskan urusan hajat mereka di sebuah kawasan bernama Kahiltna. 

Taman Nasional Denali merupakan satu dari seragam 'permata' alam menakjubkan yang ditawarkan Alaska.

Biasanya Taman nasional Denali mulai dibuka untuk umum setiap tahunnya pada pertengahan Mei, ketika salju mulai menyurut.

Di sini, turis dapat mendatangi kegagahan gunung tertinggi di Amerika Utara, yakni Gunung Denali.

Dengan tinggi mencapai 5.500 meter pada ketinggian 6.168 meter di atas permukaan laut, banyak yang mengatakan bahwa ketangguhan gunung ini tak boleh diremehkan.


Dengan angin berkecepatan 160 kilometer per jam dan suhu yang dapat turun drastis hingga minus 40 derajat Celcius, untuk menaklukan Denali dibutuhkan fisik dan mental yang kuat.


Untuk turis yang belum siap nyali, Taman Nasional Denali bukan hanya berkutat pada pendakian gunung. Di sini mereka tetap bisa menjelajah hutan atau berkemah di dalamnya. Kegiatan olahraga seperti kayak, arung jeram, bersepeda gunung hingga memancing juga kerap dilakukan.


Sumber : https://www.cnnindonesia.com

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.