Tempat Ngopi Legendaris Ko Abun, Konsistensi dan Orisinalitas Tiga Generasi

Katuju.id - Perubahan zaman serta derasnya arus teknologi kerap memaksa sebuah entitas untuk beradaptasi, mengakomodir pergeseran budaya untuk mempertahankan eksistensi. Seperti sebuah hukum alam, yang lemah akan tersisih atau mungkin berevolusi untuk menyesuaikan dengan keadaan. Namun akan tetap ada yang mampu bertahan di tengah derasnya arus perubahan.

Warung Kopi (Warkop) Pelabuhan bisa menjadi rujukan sebuah entitas yang mampu mempertahankan otentikasinya. Sebuah bangunan ruko lawas dengan cat yang sudah memudar serta sebagian dindingnya yang berjelaga cukup menggambarkan daya tahannya dari serbuan budaya baru dalam dunia perkopian. Berbekal alat-alat sederhana, proses itu terus melenggang tanpa kekhawatiran akan terdepak dengan metode-metode baru penyajian minuman pekat berkafein tersebut.

“Saya malah belum pernah mencoba seduhan kopi yang lagi ramai saat ini,” terang Iwan Rustan atau yang akrab disapa Ko Abun pemilik warkop tersebut.

Pria setengah abad ini adalah generasi ketiga yang menjalankan usaha peninggalan kakek dan orang tuanya tersebut. Selama itu pula, tak pernah terbersit di pikirannya untuk mengubah apa yang sudah dijalankan oleh para pendahulunya. 

Tengok saja, mulai dari menyangrai biji kopi pun masih dilakukan dengan cara tradisional. Pun alat seduh yang hanya terdiri dari ceret tembaga serta sebuah saringan kain untuk memisahkan ampas kopi, masih terus dipertahankan. Termasuk kudapan seperti roti bakar, jangan harap akan tampil cantik dengan hiasan topping layaknya jajanan kekinian.

Tapi dengan segala orisinalitas itu, warung kopi Ko Abun demikian biasa dikenal, menjadi legendaris. Tanpa ada papan nama sebagai petunjuk, kedai yang di bagian depannya kerap dipenuhi beberapa lelaki paruh baya yang asik bermain kartu, tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi jika bertandang di pagi hari, akan sulit untuk menemukan tempat kosong di deretan kursi dan meja yang terkesan kusam di bagian dalam. 

Bahkan bisa disebut pengunjung setia ini adalah pelanggan militan, karena ada yang sedari muda hingga uban mendominasi warna rambutnya, tetap setia untuk menyesap kopi racikan Ko Abun.

“Sebelumnya kakek dan orang tua sudah merintis warkop ini di Sanga-sanga. Tahun 1970 kami pindah ke Samarinda, pertama buka di Taman Hiburan Gelora (THG) atau Citra Niaga sekarang. 1986 kami pindah di Jalan Dermaga dan di tempat yang sekarang sudah 16 tahun,” kenang Ko Abun.

Racikan kopi koh Abun merasuk dilidah semua kalangan usia

Cerita pun terus mengalir dari pria yang memiliki nama Mandarin Tan Yi Wen ini. Dikisahkannya, ia baru mulai memegang penuh pengelolaan warkop pada 2002 silam. Usai menamatkan sekolahnya di SMA Katolik, ayah dua anak ini melanjutkan studi di Surabaya. Berbekal gelar sarjana elektro, Ko Abun sempat bekerja di Jakarta dan Semarang, hingga pada sekitar tahun 2000-an, orang tua memintanya untuk pulang ke Samarinda.

“Setelah papa meninggal saya kemudian meneruskan usaha keluarga ini, itu sekitar tahun 2002 ya,” jelas pria yang memperistri perempuan asal Solo tersebut.

Ada fakta unik yang diungkap Ko Abun tentang warkopnya ini. Ia menjelaskan sejak dikelola ayahnya hingga sekarang pun, usaha ini tidak memiliki nama apapun. Sebutan Warkop Pelabuhan sengaja dicomot berdasarkan di mana tempat ini beralamat, untuk keperluan sebuah tulisan yang mengulas tentang tempat ngopi di Samarinda. Tulisan ini kemudian diterbitkan dalam sebuah in-flight magazine yang berkantor di Singapura pada 2010 silam. Setelah artikel ini terbit, Ko Abun bercerita banyak orang baru yang kemudian berkunjung di warkopnya. 

Bahkan sebelum dirinya terjun langsung mengelola warkop ini, orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Kopi Cuan merujuk pada nama almarhum ayahnya, Tan Han Tjuan.

“Jadi biasanya saya sudah kenal dengan semua pelanggan, nah setelah tulisan itu dimuat, akhirnya banyak orang-orang baru yang datang. Ya, paling kendalanya itu kalau pelanggan lama itu kita sudah tahu seleranya, kalau yang baru-baru kan belum paham mereka sukanya kopi yang seperti apa,” urainya seraya menambahkan keheranannya karena sekarang ini justru banyak juga anak-anak muda yang sering ngopi di tempatnya.

Disinggung tentang kopi yang digunakan, Ko Abun mengaku sudah sejak lama ia mengambil dari penyuplai di Surabaya. Kopi berjenis robusta dari Dampit Malang menjadi pilihannya dengan alasan karena memiliki kualitas yang cukup baik. Pernah mencoba menggunakan kopi dari petani lokal, namun menurutnya kualitas kopi kurang baik dan banyak tercampur partikel seperti batu yang menyulitkan proses penyangraian.

Bukan hanya warga lokal, bahkan pejabat negara sekelas mantan menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra pernah mencicipi dahsyatnya kopi koh Abun

Di akhir perbincangan, Ko Abun juga menuturkan bahwa beberapa tokoh sudah pernah mampir di kedai kopinya. Di antaranya mantan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra, kemudian gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Untuk tokoh-tokoh lokal Samarinda, sudah tak terhitung, bahkan beberapa pejabat pun masih tetap menjadi pelanggannya hingga saat ini.

“Papa itu orangnya nggak neko-neko, jadi ya warkop ini akan tetap bertahan seperti apa adanya,” pungkas Ko Abun menutup perbincangan.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.