Barista Samarinda Merangkai Asa Melintas Negara

Katuju.id-Seiring melambungnya bisnis perkopian di Samarinda, profesi barista atau pembuat kopi menjadi sangat familiar. Bisa dikatakan, di awalnya pekerjaan ini tak lebih dari sekadar hobi atau batu loncatan bagi anak-anak muda yang mungkin sedang berkuliah, sembari mengisinya dengan bekerja paruh waktu. Tak mengherankan jika profesi ini banyak digeluti generasi milenial, selain menghasilkan juga bisa memperluas jaringan sosial mereka.

Tapi apa sih yang lebih menyenangkan dari mengerjakan hobi yang dibayar? Sepertinya ini juga berlaku buat sebagian besar teman-teman barista di Bumi Etam. Apalagi pekerjaan ini sudah diakui sebagai profesi ahli yang memiliki sertifikasi, karena dianggap sebagai bagian dari sektor ekonomi kreatif yang digaungkan pemerintah sebagai penopang perekonomian bangsa di masa depan.

Dalam skena perkopian regional, profesi barista mungkin kurang begitu menjanjikan topangan finansial. Berbeda dengan kebanyakan negara lain, yang menempatkan barista itu setara dengan chef atau koki. Barista adalah salah satu tenaga ahli yang layak dibayar tinggi. Seperti dilansir dari forum Kaskus, bayaran seorang barista di Amerika bisa mencapai 19.430 Dolar atau sekitar Rp 189,4 juta, Italia Rp 158 juta, di negeri tetangga Australia mencapai Rp 195 juta. Meskipun tidak spesifik disebutkan itu gaji per bulan atau dalam 1 tahun, tapi tetap saja, angka segitu rasanya cukuplah buat mengerjakan hobimu.

Sedemikian tingginya apresiasi terhadap barista di luar negeri, menjadi daya pikat tersendiri bagi peracik kopi Indonesia untuk bisa berkarir di sana. Termasuk kawan-kawan dari Samarinda, tercatat sudah ada beberapa orang yang sedang mengadu nasib di luar negeri. Bukan sekadar materi, tapi pengalaman berinteraksi dengan budaya yang benar-benar baru, menjadi motivasi rekan-rekan barista yang tengah merajut mimpi di negeri orang.

Negara di Timur Tengah sepertinya menjadi destinasi favorit bagi barista Samarinda untuk mengembangkan sayapnya. Fadlan menjadi anak Bubuhan Kopi Samarinda (BKS) pertama yang berani menjajal tantangan di tempat baru, dengan Dubai, menjadi tujuannya. Tantangan adalah motivasi awalnya untuk berkarir di negeri para Emir tersebut. Lebih dulu dikenal sebagai brewer atau penyeduh kopi manual di Kedai Kopi Nusantara (Konus) Samarinda. Tapi tak banyak yang tahu bahwa sebelumnya Fadlan pernah bekerja sebagai bartender di Jakarta dan sudah lebih dulu akrab dengan mesin kopi.

Saat ini Fadlan bekerja sebagai barista di Qahwati Coffee di Mirdiff, Dubai, Uni Emirat Arab, dan sudah tercatat sebagai tenaga ahli. “Dari awal saya bekerja di sini sudah sebagai tenaga ahli, karena 3 tahun lalu profesi ini di Dubai belum banyak yang melirik,” tutur fadlan.


Seduhan kopi ala Fadlan kini dirindukan oleh lidah-lidah penikmat kopi di Samarinda

Fadlan juga menceritakan kultur ngopi di Dubai jauh berbeda dengan Samarinda. Dikatakannya, di tempatnya bekerja buka mulai pukul 8 pagi hingga 10 malam, dengan konsumsi kopi yang dibagi menjadi tiga tahap. “Di sini biasanya kalau pagi itu pasti mintanya espresso atau small milk base kayak piccolo gitu, siang hari lebih ke milk base,cappuccino, latte, flat white atau es kopi susu. Terus malamnya baru ke filter coffe. Paling jelas beda itu konsumsi kopi di sini lebih besar dari Indonesia, karena pagi, siang dan malam itu bisa orang yang sama dan hampir setiap hari,” terangnya tentang kebiasaan ngopi di Dubai.

Ditambahkannya, sebelum ia menjejakkan kaki di negara yang terkenal dengan gedung- gedung pencakar langit itu, sudah ada 4 orang kompatriotnya yang diakui memiliki peran besar membawa nama baik barista asal Indonesia. Kemudian setelah sempat mengikuti brewer competition di sana, dirinya banyak mendapatkan pertanyaan ada nggak barista dari Indonesia yang mau bekerja di Dubai. Sehingga akhirnya bersama rekan-rekannya tadi berinisiatif membuat akun Instagram @baristajob_dxb, sebagai jembatan informasi untuk barista Nusantara yang ingin bekerja di Dubai.

Tak sampai di situ, Fadlan dan rekan-rekannya juga berupaya mengenalkan kekayaan kopi asli Indonesia. Nusantara Coffe Roastery pun didirikan dengan tujuan membawa kopi-kopi asli Indonesia agar lebih dikenal. “Alhamdulillah sampai dengan 10 bulan ini, kami mampu memproduksi 2 ton setiap bulannya dengan menggunakan kopi Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ucapnya lagi.

Selebihnya Fadlan mengurai asanya untuk bisa lebih berkembang lagi dan akhirnya bisa menjuarai kompetisi barista di Dubai. Ia juga berpesan kepada teman-teman di Samarinda untuk tidak mudah berpuas diri dan selalu mencoba tantangan dan belajar hal-hal baru, karena persaingan global akan semakin berat ke depannya.

Lain lagi kisah dari Rais Setiawan, sama-sama bekerja di Dubai, ia baru berangkat pada April lalu. Rais yang sebelumnya bekerja di Akar Rumput Kopi, menyebut tidak ada kendala berarti dalam proses adaptasinya. Secara keseluruhan komunikasi yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Perbedaan mendasar baginya hanya terbatas pada kurang familiarnya metode seduh manual dibanding dengan espresso machine.

“Pelanggan di sini itu lebih humble dan rasa ingin tahunya sangat tinggi, jadi kadangan kita dituntut untuk menyajikan atau menyeduh kopi di meja konsumen, ya open servis gitulah,” ucap pria yang ditugaskan menangani dua coffeshop langsung di Creamy Creation dan 25 Lounge.


Rais (berkacamata) bersama rekannya yang juga asal Samarinda, Arman sedang melayani pelanggan di tempatnya bekerja

Senada dengan Fadlan, tantangan menjadi motivasi utama Rais memilih berkarir di Dubai sekaligus membuktikan bahwa hobinya ini dapat menghasilkan materi. Namun dalam hal target, Rais mengatakan masih ingin melanjutkan karir di negara impiannya, Italia.

“Di sini saya dikontrak 2 tahun, ke depannya jika kontrak ini selesai, saya ingin tawaran kerja barista di Italia,” pungkasnya.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.