Bagus Rianto, Anak Muda Asli Samarinda yang Berkarir di Kantor Grab Singapura

Katuju.id-Bermula dari hobi bermain game di komputer, siapa sangka justru mengantar anak muda ini direkrut salah satu perusahaan platform berbasis start up terbesar di kawasan Asia Tenggara, Grab. Bukan perkara mudah bagi pria kelahiran 1993 ini untuk meyakinkan orang tuanya untuk berkarir di bidang pengembangan software dan aplikasi. Karena seperti kebanyakan orang tua lainnya, selalu mendambakan anaknya bekerja di sektor formil, berseraga, memiliki jam kerja  dan income rutin yang jelas.

Ya, Bagus Rianto, pemuda lulusan SMKN 7 Samarinda ini berhasil membuktikan dirinya mampu memiliki karir cemerlang berdasarkan hobi dan passion yang ditekuninya sejak kecil. Bakat besarnya pun semakin terasah saat ia mengambil jurusan Rekayasa Piranti Lunak di sekolah yang berada di Jalan Aminah Syukur Samarinda itu. bahkan ia sempat menggondol peringkat 1 terbaik dalam gelaran Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) 2010 yang digagas oleh Dinas Pendidikan Republik Indonesia.

“Jadi dulu orang tua sempat kurang setuju waktu memilih untuk bersekolah di SMKN 7. Tapi karena memang sejak kecil passion saya itu di computer, suka bikin chit-chit gitu untuk nge-game,” kenang lelaki berpenampilan sederhana tersebut.

Selepas menamatkan sekolahnya, Bagus melanjutkan pendidikan akademis di Universitah Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Memilih jurusan Ilmu Komputer di Kampus Bulak Sumur itu, Bagus termasuk beruntung karena berhasil mendapatkan bantuan dari Beasiswa Cemerlang yang digagas oleh Pemprov Kaltim. Di kampus ini, kemampuannya di bidang rekayasa komputer semakin mengkilap. Salah satunya saat ia bersama timnya mampu memenangkan sebuah kompetisi yang diadakan oleh Microsoft dan Nokia.

Ditanya bagaimana awalnya hingga bisa diterima bekerja di Grab, Bagus pun tidak menyangka. Karena pada saat itu ada kawannya yang lebih dulu bekerja di sana, sehingga memacu motivasinya bahwa dirinya pun bisa. 

“Iri aja sih awalnya karena teman ada kerja di sana, kalau dia bisa pasti saya juga,” tuturnya sembari tertawa.

Dari rasa iri yang positif ini, Bagus pun iseng untuk mengirim lamaran, hingga akhirnya mendapatkan balasan untuk interview. Proses ini juga tidak sebentar, butuh waktu kurang lebih 4 bulan sampai akhirnya Grab memutuskan menerimanya sejak Februari lalu. Jadi terhitung sudah hampir satu tahun, Bagus bekerja di perusahaan yang didirikan oleh Anthony Tan tersebut. Di mana sebelumnya ia bekerja sebagai Technical Lead di perusahaan start up di Yogyakarta yang juga dimiliki oleh Singapura.

Menduduki jabatan sebagai Software Engineer di Grab, Bagus merasakan banyak perbedaan mendasar dalam etos kerja. Menurutnya di Grab selalu ada hal baru dengan cara pikir yang jauh berbeda dengan yang dirasakannya di tanah air. Bukan saja soal komunikasi, tetapi juga profesionalitas, teknologi dan yang paling utama adalah mentalitas.

“Yang paling beda saya rasakan itu soal definisi professional, kalau kita di sini itu kita bisa bekerja tak mengenal waktu sampai lembur segala. Nah, kalau di Grab tidak mengenal lembur, sesuai jam kerja saja namun optimalisasinya yang diutamakan. Bahkan untuk jadwal cuti saja itu harus diingatkan untuk diambil, sebagai hak karyawan,” ujarnya dalam bincang-bincang santai di Orcaella Kopi Plaza Mulia Samarinda, Senin (17/12) kemarin.

Disinggung bagaimana usaha berbasis start up seperti Grab bisa tumbuh besar hingga kini mampu merambah nyaris seluruh negara di kawasan ASEAN dengan sektor serupa yang dikembangkan pengembang start up lokal, Bagus menjawab secara diplomatis. Menurutnya hal ini terletak pada kerjasama tim yang solid, bagaimana setiap divisi di Grab ini mampu mengeksplorasi optimal kelebihan masing-masing sehingga menutupi kekurangan tim lainnya.

“Saya melihatnya di Grab ini punya tim eksekusi yang luar biasa, jadi mau sehebat apapun soft engineernya, jika tidak memiliki kemampuan di bidang marketing, itu tak bisa untuk meyakinkan klien untuk menggunakan jasa kita,” jelasnya.

Seperti dicontohkannya, bagaimana Grab mampu menjalin kerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Di mana saat ini di Singapura, jika membuka aplikasi Grab, secara otomatis akan menampilkan 10 destinasi wisata pilihan di Indonesia, sebagai salah satu peran eksekutor memperluas jaringan kerja perusahaan.

Di akhir perbincangan, Bagus sedikit memberi tips buat anak-anak milenial Kota Tepian. Menurutnya, untuk bisa berhasil harus berani mencoba hal-hal baru. “Jadi kalau satu bidang yang kita jalani ini belum berhasil, terus buka pikiran kita, untuk mencoba inovasi atau bahkan melakukan hal baru,” tutupnya memungkasi.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.