Mencari Figur Lokal yang Pantas Pimpin Samarinda, Dikomposisi Junior Ada Nama Farid Nurrahman, Paling Senior Diisi Syafruddin Pernyata

Katuju.id-Riset polling mencari karakter pemimpin Samarinda berikutnya, ternyata cukup menarik antusias warganet Kota Tepian. Ini bisa dilihat dari kolom-kolom komentar dalam unggahan polling gagasan Tangan Kanan Digital bekerjasama dengan media Katuju.id, Kaltim Today dan platform grup Facebook Busam.

"Tentu kami sangat berterimakasih kepada masyarakat yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi polling sederhana ini," ucap Digital Strategic Tangan Kanan Digital Dahsyat Aulia.

Dalam polling, netizen diminta memilih satu dari empat tokoh yang dinilai memiliki kecocokan karakter membawa perubahan bagi kota ini. Nama Anies Baswedan ternyata menjadi sosok yang paling banyak dipilih, mengungguli Tri Rismaharini, Basuki Tjahja Purnama dan Ridwan Kamil. Sosok akademisi, santun dengan retorika narasi luar biasa ini dianggap pas sebagai karakter wali kota berikutnya.

Dari pengamatan Tangan Kanan Digital, sosok lokal yang sedikit mendekati kapasitas Anies, salah satunya adalah Farid Nurrahman, anak muda yang pernah mengenyam pendidikan ITS dan Greenwich University London. Pria yang saat ini menjadi dosen di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) itu dikenal tajam dalam analisa dan memanfaatkan peluang. Terbukti dirinya kerap dilibatkan dalam perencanaan wilayah daerah. Farid juga aktif dalam giat ekonomi kreatif, salah satunya dengan mendirikan Ruangku co-Working Space, suatu wadah yang diharapkan mampu membangun sinergi kreatif anak-anak muda daerah.

Menanggapi bahwa dirinya masuk dalam penilaian tim riset, sebagai figur yang dekat dengan karakter Anies, Farid hanya tersenyum. Apalagi dirinya belum terpikir untuk maju dalam kontestasi politik itu. Namun ia bersyukur dan mengapresiasi bahwa dirinya dinilai memiliki kapasitas seperti gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Artinya apa yang saya sampaikan tentang keresahan pada kota ini cukup didengar oleh masyarakat," jawabnya kalem.

Menyikapi soal banjir, Farid menilai belum ada regulasi yang tegas dalam hal tata kelola lingkungan oleh pemerintah.  "Saya setuju jika banjir ini jadi skala prioritas. Masalahnya pemerintah terkesan kurang rapi menangani ini. Walau ada langkah-langkah yang dilakukan, tapi sejauh mana efektivitasnya, itu yang masih dipertanyakan," pungkas Farid.


Sosok berikutnya yang dirasa pas ada akademisi Herdiansyah Hamzah. Pria yang akrab disapa Castro ini cukup sering dijadikan rujukan para jurnalis untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan publik. Ditanya tentang permasalahan banjir, tegas ia menunjuk aktivitas pertambangan sebagai salah satu faktor penyebab rusaknya lingkungan.

"Untuk itu kita perlu mengembalikan daerah resapan dengan melakukan evaluasi terhadap industri ekstaktif atau tambang," tegas Castro.

Sementara nama berikutnya adalah Syafruddin Pernyata, ketika dihubungi melalui sambungan telepon, pria pemilik Salma Sofa ini menurut versi Tangan Kanan Digital juga hampir memiliki kesamaan karakter dengan Anies Baswedan. Mantan Kepala Dinas Pariwisata Kaltim ini juga diketahui pernah mengajar di Universitas Mulawarman. Dikenal sebagai sosok yang ramah, Pak Es demikian beliau biasa disapa dikenal juga sebagai sastrawan. Beberapa buku karyanya kebanyakan menulis tentang motivasi dan novel berlatar kearifan lokal. Sehingga untuk narasi dengan diksi-diksi yang menarik bukan lagi hal yang sulit bagi beliau.

Disebut memiliki karakter dengan Anies, Pak Es justru lebih banyak mengulas terkait poling yang dilakukan beberapa hari lalu itu. Figur Anies dengan kesantunan dan pendekatan persuasifnya menjadi alasan logis masyarakat untuk dipilih. Namun di sisi lain, memimpin sebuah daerah juga diperlukan ketegasan untuk menegakkan aturan, di mana ini terdeskripsi jelas pada figur Risma dan Ahok. Orang seperti Ridwan Kamil pun menurutnya sangat dibutuhkan untuk Samarinda yang lebih baik. Dengan kemampuan seni dan arsitekturalnya, Kang Emil mampu merubah wajah Bandung lebih berseni dengan penempatan lanskap yang tepat.

Persoalan banjir, Syafruddin sepakat jadi hal utama yang patut mendapat perhatian lebih. Namun penyelesaiannya tidak bisa secara parsial, harus menyeluruh. Ia mencontohkan kawasan resapan air yang tergantikan dengan pemukiman. Menurutnya hal ini memang tidak bisa dicegah, karena pertumbuhan penduduk pasti berimbas pada pembangunan-pembangunan. Tetapi hal ini sebenarnya bisa disiasati, untuk mengurangi debit air yang langsung menuju sungai saat hujan turun. Yakni dengan mengajak masyarakat, terutama yang mampu untuk menyiapkan penampungan air atau tandon. Dengan menampung air hujan yang sebenarnya adalah rahmat itu, setidaknya mampu mengurangi limpahan air yang langsung ke tanah.

"Bayangkan jika ada 30 ribu rumah yang dilengkapi tandon 2.500 liter, di mana air ini bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Apalagi sudah ada teknologi atau cara yang bisa menetralisir air hujan. Daripada air itu langsung ke comberan dan pasti tidak bisa dimanfaatkan," urainya panjang lebar.

Ditambahkannya lagi, persoalan banjir ini jadi masalah bersama. Memang perlu ada ketegasan untuk menegakkan aturan, terutama terkait aktivitas pembukaan lahan. Termasuk salah satunya adalah membangun saluran-saluran kontrol yang mampu memfilter sampah di sungai, seperti yang diterapkan di Surabaya. Di mana hal itu akan mempermudah proses pembersihan limbah-limbah yang larut bersama aliran sungai.

Berikutnya ada nama M Faisal, mantan Kepala Dinas Pariwisata yang saat ini menjabat Kepala Dinas Perindustrian Kota Samarinda. Dihubungi melalu sambungan seluler, Faisal mengaku tak habis pikir, jika ia dinilai memiliki karakter mendekati Gubernur DKI tersebut.

Menurutnya, ada beberapa kemungkinan mengapa Anies bisa meraih vote tertinggi. Karakter Anies yang santun disebut sesuai dengan kondisi Samarinda yang heterogen, sehingga bisa merangkul semua pihak. Mantan Rektor itu juga dinilai sebagai sosok religius sama halnya dengan penduduk Samarinda. "Meski begitu Anies bukan figur religius yang fanatik, ia lebih moderat," ucap Faisal.

Mengenai skala prioritas permasalahan yang harus diselesaikan, banjir masih menjadi pilihan sebagian besar netizen. Mengomentari itu, Faisal menyebut persoalan ini harus dituntaskan secara komprehensif. Perlu ada sebuah langkah berkelanjutan dari program-program yang telah dirancang.

"Banjir ini selalu jadi prioritas, tapi mau sampai kapan? Apa harus menunggu 100 tahun kita terus berkutat dengan problem yang sama?," imbuhnya.


Terakhir adalah nama Idfi Septiani mantan Lurah Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, ini masuk dalam radar Tangan Kanan Digital, sebagai sosok lokal yang mewakili dari kaum hawa. Saat dihubungi Idfi yang dikenal sebagai sosok muda dengan banyak raihan prestasinya, mengucap sangat terkejut akan hal tersebut.


Kendati demikian, Idfi juga mengatakan terimakasih jika kinerjanya selama ini telah dilihat masyarakat Samarinda, khususnya yang kerap berselancar di dunia Maya.

"Yang jelas saya kaget disandingkan dengan yang lain (M Faisal, Safruddin, Farid Nurrahman dan Hermansy Hamzah). Saya belum ada apa apanya, masih muda minim pengalaman, dan belum berbuat banyak untuk Samarinda," ucap Idfi yang sekarang menjabat Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sambutan.

Meskipun terkejut, Idfi mengaku jika hasil polling di dunia digital ini merupakan cambuk baginya. Agar terus meningkat kinerja untuk mengabdi serta memberikan pelayanan lebih baik lagi kedepannya.

Menjelang tahun depan di mana, pesta demokrasi Pemilihan Walikota (Pilwali) akan dilaksanakan kembali. Idfi mengaku jika dirinya belum terpikir menuju arah dunia politik.

"Saya birokrat dan ranah politik itu berbeda. Tetapi penyelenggaraan pemerintahan daerah tetap tidak terlepas dari unsur politik," paparnya.

Meski belum memikirkannya, tetapi di masa mendatang Idfi tidak menutup kemungkinan jika dirinya akan terjun ke dunia tersebut.

Menanggapi soal keresahan warga net, yang menempatkan permasalahan banjir sebagai persoalan tertinggi, menurutnya bahwa Samarinda dahulunya memilki tampilan wajah kota seribu sungai.

Jadi dari aspek geografis, dataran Samarinda terbilang memiliki beberapa daratan dengan kondisi yang lebih rendah, daripada ketinggian sungainya.

Banjir merupakan persoalan luas yang sangat kompleks, dengan banyak sudut pandang yang berbeda. Faktor alam ketika terjadi curah hujan yang sangat tinggi, masyarakat harus menyadarinya. Jika hal tersebut tidak bisa ditentang oleh manusia.

"Beberapa tahun terakhir penanganan banjir dari pemkot (Samarinda) sangat serius. Contohnya, jika biasa air tergenang satu jam, sekarang jadi setengahnya," papar Idfi.

Bercermin dari pengalamannya saat berkunjung ke negeri berjulukan kincir angin. Idfi melihat persamaan serupa, di mana kota Amsterdam juga memiliki banyak sungai yang terus dipelihara, baik dari masyarakat maupun pemerintahnya.

"Peraturan di sana tidak boleh ada pembangunan di pinggir sungai. Jadi sekarang tidak ada bangunan dipinggir sungai. Susunannya itu, sungai, tepi sungai, jalan raya, barulah rumah warga. Masyarakat benar benar menjaganya, dan lebih melek lingkungan," pungkas Idfi.




Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.