Pasar Minyak Sawit di 2019 Diprediksi Kinclong

Katuju.id - Dalam pembukaan ditahun 2019  ini industri kelapa sawit bakal dihadapkan pada kondisi pasar yang lebih baik. Dalma laporan Bloomberg belum lama ini mencatat, pasar besar minyak sawit di China terbuka lebar, dimana pembelian minyak sawit di negeri Tirai Bambu itu tercatat tinggi, dari laporan resmi pemerintah China.

Perang dagang yang berlangsung dan munculnya penyakit babi yang menyerang peternakan babi di China mendorong China mengurangi impor kedelai negara itu, yang digunakan sebagai makanan ternak dan menghasilkan minyak kedelai. "Konsumsi dan impor minyak sawit China akan meningkat secara signifikan pada 2019," kata Kepala Komoditas Fitch Solutions, Aurelia Britsch, di Singapura.

Lebih lanjut tutur Britsch, harga minyak kelapa sawit yang lebih ekonomis, penurunan persediaan dalam negeri dan melorotnya impor kedelai dari AS karena perang dagang akan mendorong permintaan minyak sawit lebih tinggi.

Pembelian yang akan meningkat dari China bakal membantu harga minyak sawit di pasar untuk komoditas bisa pulih kembali dari rendahnya harga yang terjadi sepanjang tahun lalu.

 

Impor Minyak Sawit China

Impor minyak sawit China tercatat naik 17% dari tahun sebelumnya (2017) menjadi 6,2 juta ton sampai akhir September 2018, merujuk informasi China National Grain and Oils Information Center. Itu akan menjadi yang tertinggi sejak impor tertinggi mencapai 6,59 juta ton pada periode 2012/2013 lalu.

Dikatakan, Kepala Asia Tenggara dari LMC International Ltd., Julian Conway McGill, tingginya impor minyak sawit di China ini akan tergantung pada seberapa banyak permintaan untuk bungkil kedelai, yang digunakan dalam pakan ternak, namun demikian akan diprediksi menurun menyusul adanya penyebaran demam Babi Afrika.

Namun demikian perlu juga menjadi perhatian, di tahun babi ini China juga akan memainkan peran penting setelah adanya negosiasi dagang antara Presiden Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump, lantaran China telah menerapkan tarif impor tinggi kedelai Amerika dan memangkas pembelian.

Kedua negara telah mencapai kemajuan dalam negosiasi, dan berkurangnya ketegangan serta melimpahnya pasokan kedelai di Amerika Selatan dapat menjadi sebab permintaan minyak kelapa sawit justru bakal melorot dari prediksi beberapa analis. 


Sumber : https://www.infosawit.com