Objek Wisata Wajib di Perkebunan Teh Kaligua: Puncak Sakub, Mata Air Abadi dan Gua Jepang

Katuju.id - Hamparan kebun teh di lereng Gunung Slamet tidak hanya menyuguhkan pemandangan eksotik. Dari ketinggian 1.500-2.050 di atas permukaan laut, keindahan alam yang ijo semakin sempurna saat matahari yang mulai mengintip di balik gunung berhasil terekam mata kita. Wisata agro bernama Perkebunan Teh Kaligua milik PTPN IX itu berlokasi di Dusun Kaligua, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Hamparan perkebunan di bukit dan lembah itu memiliki luas 605,8 hektare. Sebanyak 524,54 hektare di antaranya ditanami pohon teh. Sisanya ditanami sayur mayur serta stroberi. Tiket masuk ke tempat Wisata Kaligua dibanderol Rp 5.000 per orang.

Dari gardu pandang yang disebut “Puncak Sakub”, hamparan kebun teh terlihat seperti permadani hijau. Sesekali, kabut tebal yang turun dari lereng gunung menghalangi pandangan. Namun, saat cuaca cerah, akan terlihat pucuk-pucuk daun teh yang berkilau karena embun yang mulai mencair. Keindahan pemandangan dari ketinggian ini membuat beberapa wisatawan yang datang ke sana menyebut Puncak Sakub sebagai negeri di atas awan.

Dari tempat ini juga terlihat sebuah air terjun yang memecah tingginya perbukitan di antara tanaman teh. Baru kali ini saya merasakan tempat wisata yang udaranya bersih dan segar seperti ini,” kata seorang wisatawan asal Ungaran, Semarang, Bambang (39).

Menjelajahi perkebunan teh yang ada, pengunjung akan menemukan sebuah sumber mata air abadi yang dikenal masyarakat setempat sebagai "Tuk Bening”.

Air abadi ini mengalirkan air bening ke sungai. Seolah tidak ingin kesegaran sumber mata air ini hilang percuma, pengelola kemudian memadukan sungai dan kolam renang yang terbagi dua bagian besar. Kesegaran berenang di kolam yang merupakan terusan sungai ini semakin terasa lantaran kolam ini dibangun di antara kebun teh yang dikepung perbukitan.

Konon, Tuk Bening ini berkhasiat menyembuhkan penyakit. Mata air ini juga difungsikan sebagai air minum alami.Jika tidak ingin berlelah-lelah jalan kaki menjelajahi perkebunan teh, tempat wisata ini juga menawarkan jasa mengendarai kuda dan bersepeda melewati perkebunan teh.

Wahana outbound, seperti flying fox, multiline climb, dan jaring laba-laba, layak dicoba untuk menyempurnakan kesenangan berlibur bersama teman atau keluarga.

Di kawasan ini, pengelola juga menyediakan camping ground yang bisa menampung hingga 100 tenda. Namun, jika ingin merasakan nikmatnya malam di penginapan, ada juga wisma yang bisa disewa dengan tarif mulai Rp 300.000 per malam.

Manager pengelola Wisata Kaligua, Marjono mengungkapkan, pengunjung dapat melihat proses pengolahan teh hijau di pabrik teh yang ada. Mulai dari perlakuan terhadap daun teh pascapanen, dimasak, sampai pengemasan hingga siap kirim.

“Wisatawan akan dipandu pakar-pakar teh untuk mendapatkan penjelasan tentang proses pengolahan di pabrik,” kata Marjono.

Di perkebunan teh yang semula milik seorang dari Belanda, NV Cultur Onderneming, tahun 1879, ini, juga terdapat sebuah gua. Terowongan sepanjang 850 meter ini dikenal masyarakat setempat sebagai Gua Jepang. Berada di ketinggian sekitar 2.000 di atas permukaan laut (dpl), gua ini berada tak jauh dari Puncak Sakub.

Gua ini membelah perbukitan di bawah area perkebunan teh dan terdapat sejumlah pintu tembus yang beberapa di antaranya hingga sekarang belum dapat terakses. Gua yang lebarnya sekitar satu meter dan tinggi sekitar 1,8 meter ini dibuat tentara Jepang pada 1942. Proses pengerjaan dilakukan masyarakat kampung setempat lewat cara kerja paksa atau romusa.

“Awalnya, gua ini akan dipakai tentara Jepang sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat pembantaian massal. Namun, setelah peristiwa pengeboman Hirosima dan Nagasaki, tentara Jepang yang ada di gua kabur. Mereka hilang secara misterius,” kata penjaga Gua Jepang, Salim.

Untuk merasakan suasana di dalam gua, pengelola mengizinkan pengunjung masuk ke dalamnya. Selain tidak pengap, suasana gua terasa dingin. Air menetes di beberapa titik gua. Di sana terdapat sejumlah ruangan yang dulunya dipakai tentara Jepang untuk ruang penyiksaan, ruang tahanan, dan ruang pembantaian.

Menurut Salim, di dalam Gua masih terdapat sejumlah jalan yang sempit dan pendek. Orang yang lewat harus merayap. Namun pertimbangan keamanan, jalan tersebut tidak dibuka aksesnya untuk umum.

Pengelola gua memasangi lampu di sejumlah titik sehingga pengunjung tak perlu khawatir dan takut. “Gua ini dijadikan tempat wisata mulai tahun 1997 lalu,” tegas Salim.

Untuk mencapai tempat Wisata Kaligua, Anda yang berangkat dari Semarang harus menempuh perjalanan sekitar 264 kilometer. Anda dapat menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum. Dari Semarang, arahkan kendaraan Anda ke Jalan Raya Paguyangan, Brebes, hingga menemukan pertigaan Kaligua.

Jarak tempat wisata dari pertigaan ini sekitar 18 kilometer dan harus melewati tanjakan curam. Sepanjang perjalanan menuju tempat wisata ini, mata Anda dipastikan puas menikmati keindahan pemandangan berupa desa, pegunungan, sungai, dan jurang. Namun, kenyamanan Anda mungkin sedikit terganggu karena medan jalan yang sempit dan agak terjal lantaran sebagian aspal telah mengelupas.

Sementara, bagi Anda yang ingin menuju Puncak Sakub, perjalanan masih harus ditempuh dua kilometer lagi. Jalan yang dilewati hanya cukup untuk satu mobil. Jarak tempat wisata ini dari Kecamatan Bumiayu, Brebes, sekitar 20 kilometer. Sementara dari Kabupaten Brebes 95 kilometer, dan dari Purwokerto 50 kilometer.

Tak Jauh dari kebun Teh Kaligua, sekitar dua kilometer sebelumnya, di antara kepungan bukit dan dikelilingi pohon pinus, terdapat Telaga Ranjeng. Telaga yang memiliki luas 48,5 hektare dan berada di atas ketinggian 2.000 di atas permukaan laut ini menyimpan eksotisme.

Tatkala mendekati air di telaga, Anda akan disambut ratusan bahkan ribuan ikan lele dan ikan emas. Ikan-ikan yang besarnya sepaha orang dewasa itu seolah tak lelah menunggu makanan yang diberikan pengunjung.

Masyarakat setempat bahkan memercayai ada ikan yang ukurannya sebesar perahu atau kano. Warga di perkampungan setempat tidak berani mengambil ikan di Telaga Ranjeng. Mitos yang beredar, mereka yang berani mengambil ikan akan sakit.

“Pernah ada warga yang mengambil ikan dari sini kemudian orang itu sakit dan tak kunjung sembuh. Setelah ikan yang diambil dikembalikan ke telaga, kesehatannya pulih,” tutur seorang warga yang menjual roti sebagai pakan ikan di area Telaga Ranjeng.

sumber : http://www.tribunnews.com