Menghormati Hutan, Melestarikan Kehidupan

Indonesia memiliki hutan seluas 128 juta Ha, yang terdiri dari kawasan hutan konservasi (Kawasan Hutan Suaka Alam-Kawasan Hutan Pelestarian Alam) memiliki luas 27,4 juta ha. Hutan lindung seluas 29,7 juta ha. Hutan produksi terbatas 26,8 juta ha. Hutan produksi 29,3 juta ha. Dan luas hutan yang bisa dikonversi 12,9 juta ha. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2015 (bertagar.id). Namun pada tahun 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan luas kawasan hutan Indonesia saat ini tercatat sekitar 125,9 juta hektare (ha) atau seluas 63,7 persen dari luas daratan Indonesia.

Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Sigit Hardwinarto menjelaskan, luas saat ini merupakan hasil evolusi kawasan hutan yang pada awalnya merupakan komitmen pemerintah dan pemerintah daerah, berupa kesepakatan yang dituangkan dalam bentuk peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).

Sigit menuturkan, terjadinya penurunan kawasan hutan produksi (HPK, HP dan HPT) disebabkan adanya alokasi lahan melalui pelepasan kawasan hutan untuk sektor lain yang proporsinya lebih banyak diberikan kepada korporasi sekitar 88 persen, dan didominasi untuk keperluan perkebunan.

Hingga 2017 lalu, pemerintah melepaskan kawasan hutan sebesar 305.984 dimana 26 lokasi pelepasan kawasan dengan luas sekitar 232.810 Ha mendapat persetujuan pelepasan antara tahun 2012-2014 (Infopublik.id/9/4/2018).

Kalimantan timur menyumbang perubahan tutupan hutan di Indonesia. Bahkan laju deforestasi hutan di kalimantan Timur rata-rata 98 ribu ha per tahun (kaltim.prokal.co 26/9/2017) dimana 72% penyebab deforestasi ini adalah aktivitas di dalam konsesi HPH, HTI, Perkebunan kelapa sawit dan pertambangan (fwi.or.id)

Hutan selalu menjadi korban dalam kapitalisme. Gurihnya bisnis kayu, kelapa sawit bahkan apa yang ada di dalamnya berupa bahan tambang membuat hutan menjadi rebutan dan alasan indah berupa investasi dan peningkatan penerimaan daerah juga pembukaan lapangan kerja. Hanya itukah yang bisa kita lihat dari hutan?

Sesunguhnya hutan memberikan kita lebih dari sekedar kesejahteraan finansial. Hutan bukan sekedar sapi perahan. Namun hutan memberikan kita kehidupan.  Hutan memberi kita udara bersih dan sehat yang akan menyehatkan paru-paru kita juga keturunan kita. Hutan memberikan daerah tangkapan hujan yang akan menjamin bahwa air baku yang kita konsumsi adalah air bersih yang berkualitas. Hutan memberikan dirinya sebagai tempat tinggal bagi banyak satwa yang bisa kita konsumsi, bahkan hutan juga melindungi satwa langka yang hampir punah.

Hutan menyimpan banyak bahan pangan yang telah menjamin nenek moyang kita hidup sehat dan mewariskan ilmunya kepada kita. Hutan menyediakan banyak biofarmaka sehingga kesehatan kita terjaga. Hutan juga memberikan kita perlindungan terhadap cuaca ekstrim dan bencana. Bahkan hutan juga menyediakan bahan perumahan kita.

Naif sekali rasanya ketika hutan memberikan banyak hal kepada kita dan kehidupan. Kita justru menghancurkannya hanya demi rupiah dan kesejahteraan segelintir orang. Benar, bahwa pemerintah menyediakan payung hukum untuk melindungi hutan. Tapi benarkah payung hukum ini bekerja? Tidakkah laju deforestasi menunjukkan bahwa syahwat ekonomi masih lebih utama dibandingkan kelestarian hutan dan alam.

Kelemahan pengelolaan hutan diawali dengan kesalahan paradigma terhadap hutan. Selama kita masih melihat hutan sebagai sumberdaya maka kita pasti akan memeberdayakannya, dan mengurasnya.

Islam mengatur sumberdaya hutan sebagai bagian milik umat yang hasil pengelolaannya di kembalikan kepada umat. Abdul Qadir Zallum dalam kitab al-amwal di Daulah Al khilafah (1983) mendasarkan pendapatnya pada hadits Rasulullah “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : dalam air, padang rumput [gembalaan], dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah). (Imam Syaukani, Nailul Authar).

Hadits ini menunjukkan bahwa tiga benda tersebut adalah milik umum, karena sama-sama mempunyai sifat tertentu sebagai illat (alasan penetapan hukum), yakni menjadi hajat hidup orang banyak (min marafiq al-jama’ah). Termasuk milik umum adalah hutan (al-ghaabaat), karena diqiyaskan dengan tiga benda di atas berdasarkan sifat yang sama dengan tiga benda tersebut, yaitu menjadi hajat hidup orang banyak.dan mewariskan kebaikannya kepada generasi berikutnya. Karena hutan merupakan sumber kehidupan menjaga hutan sama dengan menjaga kehidupan itu sendiri.

Pada akhirnya pengelolaan hutan yang tepat dengan paradigma yang tepat akan membuat kita menghormati hutan dan melestarikan kehidupan kita kelak.



Gambar diambil dari: Mongabay.co.id

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.