Begini Kisah Caleg Kukar Yang Gagal Hingga Mengalami Gangguan Jiwa

Katuju.id- SEJUMLAH calon anggota legislatif gagal terpilih untuk duduk di parlemen dalam pemilu 2019, beberapa di antaranya mengalami stres.

Salah satunya Arif, bukan nama sebenarnya. Ia bertarung di kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, untuk duduk di kursi anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Sejak tiga hari setelah hari pencoblosan hingga dipenghujung Ramadhan lalu, Arif justru duduk di tempat lain: panti rehabilitasi jiwa dan narkoba di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ia stres usai gagal memperoleh kursi parlemen.

"Kacau. Bingung," imbuh Arif, lirih.

Kami berbincang dengannya di teras rumah ketua Yayasan Annur, Supono, yang memiliki Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Mustajab serta Rumah Sakit Khusus Jiwa dan Narkoba H. Mustajab.

"(Tahun) 2014 kemarin ada hampir 30 caleg stres, jadi keganggu (jiwanya) lah. Sekarang, 2019, kita kedatangan lagi teman-teman kita yang tidak beruntung," tutur Supono dengan kemeja batik hijau cerah yang ia padankan dengan sarung dan kopiah hitam.

"Tapi saya mengatakan bukan stres itu, hanya terganggu. Dia hanya kaget saja," katanya.

Pengalaman pahit Arif juga dialami caleg-caleg gagal lainnya di seantero Indonesia. Sebagiannya mencari pertolongan dengan mendatangi fasilitas rehabilitasi seperti yang dimiliki Supono.

"Di sini saya menemukan ketenangan," ungkap Arif separuh berbisik.
Nyaleg gagal, 'ngamuk' kemudian
Tatapan Arif lurus ke depan, matanya tampak kosong: entah merenung atau memuat hampa.

Awalnya, Arif - yang tidak berkenan membuka identitas sebenarnya - malas ditanyai wartawan. Beruntung, berkat bujukan Supono, ia bersedia kami ajak berbincang di siang hari bulan Ramadan itu.

Usianya di kepala tiga menjelang 40-an tahun. Dari pengakuannya, ia memutuskan nyaleg tahun lalu atas kemauannya sendiri.

"(Mau) membantu rakyat di sana," tutur Arif yang asli Kutai Kartanegara.

"Devisanya nomor satu di Indonesia, tapi (kesejahteraan) masyarakatnya masih di bawah rata-rata," ungkapnya, kali itu ada sedikit kerutan di keningnya.

Kabupaten Kutai Kartanegara memang dikenal sebagai salah satu penghasil devisa terbesar Indonesia berkat industri migas dan batu baranya.

Ia lantas tak ragu menggelontorkan dana pribadi hingga meminjam sana-sini demi asanya menjadi anggota dewan. Duit sebesar lebih dari Rp1 miliar terkumpul untuk memodali impiannya itu.

"Yang besar biaya baliho sama stiker. Sama kaus. Itu yang paling besar."

Katanya, alokasi anggaran untuk belanja alat peraga kampanye (APK) mencapai 60 persen modal yang dikantonginya.

Sisanya, ada yang ia siapkan untuk membayar tim sukses, ada pula yang ia belikan sembako untuk dibagikan kepada masyarakat di daerah pemilihannya sebagai sogokan.

"Kebanyakan (warga) sih menerima (saya), Mas. Welcome sama kampanye saya," lanjutnya dengan suara yang konsisten pelan dan perlahan, "cuma di saat penghitungan, suara saya minim sekali."

Dari 600 suara yang ditargetkan, ia hanya meraup 250 suara.

Saat mendengar itu dari tim suksesnya di lapangan, ia merasa kacau. Ia kadung siap jadi penyambung lidah rakyat.

"Bagian juru kampanye saya yang kayaknya bohongin saya, Mas, bagian lapangan saya," ungkapnya menahan geram.

Ia merasa bahwa timsesnya kerap melebih-lebihkan perkembangan di lapangan, dan ia percaya.

"'Pasti naik, pasti lolos, pasti keterima' saya. Kenyataannya? Minim suaranya. Ya kebanyakan habis di situ juga dananya, buat tim lapangan saya."

Arif lantas kalut bukan kepalang.

"Ngamuk-ngamuk saya di rumah. Ngamuk enggak jelas. Saya bawaannya enggak mau keluar rumah," jelas Arif dengan emosi yang tertahan.

Saat ditanya mengapa, ia menjawab: "Malu... sama masyarakat dekat rumah."

'Stres' yang dialaminya berlipat ganda karena ia tak tahu cara mengembalikan uang yang ia pinjam. Ia kadung menggadaikan bisnis stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) miliknya untuk maju sebagai caleg.

Arif menguras uang Rp250 juta dari dompetnya, meminjam uang Rp300 juta dari orang tuanya dan menerima Rp500 juta dari bank dengan menggadaikan sertifikat usahanya.

"Saya bingung buat nebus kembali," ujarnya.

Keluarganya bertindak cepat. Ayah dan ibunya mencari tahu tempat yang bisa 'menyembuhkan gejala caleg stres' seperti yang dialami Arif lewat internet, dan langsung membawanya ke lokasi.

Pendekatan secara ilahiah adalah penyembuhan dengan jalan mengasah sisi spiritual para caleg stres dengan secara rutin mengajak mereka berdoa, beribadah, dan berbagi cerita.

Itulah yang dijalani Arif selama tiga pekan terakhir 'mondok' di sana. Ia dianggap mengalami gangguan jiwa ringan, sehingga - selain pendekatan alamiah - pendalaman agama menjadi fokus utama proses penyembuhan.

"Agamis. Herbal. Untuk pertama-tamanya saya dimandikan malam, biar syarafnya lancar bilang Pak Ustaz. Terus pagi jalan keliling kampung, dikawal sama pegawai. Siang ngaji. Pokoknya agamanya diperkuat," jelas Arif pelan.

Perlahan, ia merasa lebih tenang dan mulai bisa menerima kekalahan.
"(Saya) belajar salat, belajar ngaji. (Mbah Pono) selalu mengingatkan saya untuk salat. Kalau saya terlambat salat, dibangunin. Jadi sudah seperti mama saya, selalu mengingatkan," jelas Arif dengan senyum tipis.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.