Sebingkai Mawar Di Dinding

Dia, lelaki itu di hari2 sebelumnya, selalu melangkah cepat, tak peduli sekitar, berlalu bagaikan angin. Bahkan cuitan burung2 beo bagaikan suara lalu untuknya. Dia terus melalui hari x dengan datar. Bekerja keras untuk membangun kembali asanya yg sempat hilang. Menuju dunia baru. Sukses.

Di mata manusia dia hanyalah sosok arogan tanpa emosi, bisu, dan kaku. Tapi itulah manusia selalu penuh prasangka hitam, mereka hidup menikmati setiap prasangka itu. Maka biarlah kegelapan itu adanya. Percuma.

Dia mmg terlahir sebagai Leo. Itulah peran dari Tuhan untuknya. Selalu berpegang teguh pada prinsip, meskipun terkorbankan hati n perasaannya agar prinsip itu tegak berdiri. Mmg itulah Leo. Tidak mudah lari seburuk apapun keadaannya. Tp dia tetaplah manusia yg bisa menangis, tersayat, berbagi, gembira, kesal dan kecewa. Pernahkah ada yang melihat sisi baiknya seokor singa saat pertama mendengar....? Tentu tidak, itu hanya 1 dari jutaan manusia. Semua akan bilang singa itu jahat. Lalu haruskah menjadi singa berbulu domba? Jadi diri sendiri.  

Di hari itu, saat mentari sore masih bertahan dengan warna jingganya, lelaki itu berdiri tertegun. Dia terpesona oleh setangkai bunga nan indah, bunga mawar itu sedang bernyanyi menghibur diri. Itulah pandangan pertama yg terlintas. Seketika itu ia merasa irama dunia tiba2 berubah, terus berputar dalam tanya "Siapakah bunga itu... ak harus tahu namanya, dimana dia tinggal, apa kesukaannya, apa yg dibencinya, apa yg membuatnya sedih, dan apa yg membuatnya senang..." dan sambil berputar putar mengkhayal dalam sendiri, "...ak harus bagaimana, dari mana memulainya... paling tidak mendapat 1 senyuman indah sudah cukup... ak akan melukis"

Dia pun terbelenggu oleh pesona kesan pertama itu. Dia seperti berjalan dalam ilusi. Goresan2 warna mulai tertuang di atas kertas d sela2 waktunya. Itu dilakukan hanya ingin bertukar untuk 1 senyuman.

Dengan penuh harap, lukisan itupun terbingkai rapi di balik pita merah. Meskipun begitu ada keraguan, benarkah ini... haruskah ini tersampaikan... atau biarlah ini menjadi rahasia sendiri... dan hiduplah seperti biasa. Lama melamun, cemas, dan terus berdebar kencang. Menggumam.

Lalu dia pun dengan jantung yg serasa copot, nafas yg sulit terhisap, kaki yg tiba2 menjadi sangat berat bergetar hebat. Meberanikan diri seolah baik2 saja. Lalu sambil tersenyum memberikan bingkai itu...

"Ini untukmu..." dan....

Seketika badai datang, deburan ombak menerjang, petir menyambar...

"...aaapa, tidak mungkin, kenapaaa..."

Untuk pertama setelah cinta terakhir dalam 8 tahun silam, bukan senyum yg ia terima, tp duri yg terasa pedih. Ironis.

Dia tetaplah seorang dengan hati yg tegar. Tidak mungkin bermuka muram utk menghiasi dunia ini. Kekecewaan itu biarlah menjadi kenangan. Tapi getaran utk sang mawar masih blm sirna. Jd jgn biarkan, mungkin rasa pedih ini adalah cobaan. Selalu ada makna.

....seiring waktu berjalan, hanya sedikit canda dan sedikit tawa. Sedikit sekali. Memang itulah adanya. Namun dia tetap berusaha menjaga getaran itu dalam hati diam. Karena dia pun tidak tahu lagi jalan yg harus d tempuh. Pesan pun tak berbalas. Buntu.

Di tengah dilema yg semakin bertumpuk ini. Rasa gundah kian mengusik. Oh, ternyata mawar itu memilih kembali pada masa lalunya, seseorang yg pernah memetiknya dan memeluknya dulu. Sungguh ini adalah situasi yg menggelora,

"...ak, bagaimana mungkin ak hidup d tengah jalinan seseorang... ini bagai kisah lama yg terulang... sebaiknya menjauh... apa kata dunia, tidak, ak yg salah... ak sdh terperdaya oleh ilusi cinta... ini jelas cinta segitiga, ak lah yg harus pergi... ya, sebaiknya begitu, pergi utk mengalah..."

....utk selanjutnya, meski terasa kehilangan dia mulai membiarkan getaran itu melebur bersama waktu, entah sampai kapan hingga akhirnya hilang. Tp seindah apapun cinta, juga akan tetap pudar n hilang jika tidak terjalin. Itulah aturan kehidupan ini. Dan dia sdh tdk memiliki alasan apa2 utk merawat getaran itu. Apa? Bunga itu sudah tidak ada bukan.... sampai kapan berdiri d taman yg kosong.... separuh cinta itu sdh mendekap ke pelukan seseorang, maka satu demi satu dia harus melangkah. Satu senti, dua senti, satu meter, dua meter... Memang kadang sesekali melirik ke belakang, berharap ada yg tertinggal walau sehelai kelopaknya, atau paling tidak aromanya, atau paling tidak duanya... tapi entahlah. Hanya tiupan angin kosong. Dan langkah itu pun perlahan akan menjauh, langkah yg sangat lambat dan berat, tapi waktu juga yg akan menuntunnya pergi ke taman berikutnya...

Dia sedikit demi sedikit mulai bisa melihat musin semi. Dan lelaki itu pun akhirnya harus tetap melangkah memilih masa depannya. Mencari pendamping setia mmg tidaklah mudah...

Sedikit demi sedikit belenggu yg kasat mata itu mulai lepas. Akan lepas karena terabaikan... Yang akan berlalu biarlah berlalu. Indah sebagai kenangan. Untaian harapan itu, biarlah jd kisah klasik utk masa depan. Tertinggal d hari yg lalu sebagai bingkai sang waktu.

Harapan bersama seseorang yg saling mengistimewakan, mendukung, bercerita, hadir saat susah, hadir saat senang, itulah yg kini dia cari. Sembari membangun impian2nya utk sukses. Tidak apa jika harus melalui ini dgn terjal, tp ini adalah berharga, dia akan tetap mengingat cinta ini sbg anugerah. Cinta tak terbalas bukanlah dendam. Ini sebuah jawaban bahwa singa juga bisa menangis utk kisah hidupnya, utk kisah kisah romantis itu. Dan saat selesai dgn tangisan sendu itu, dia harus kembali bangkit. Penuh senyum, harapan, dan doa bahagia. Utk kita semua.

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.