Gaji dan Jabatan Tinggi Tak Jamin Bikin Orang Betah Kerja

Katuju.id - Uang dan jabatan tak bisa 'membeli' kebahagiaan. Setinggi apapun gaji yang didapat dan sekuat apapun jabatan yang digenggam tak menjamin membuat pekerja bahagia dan setia pada perusahaan.

Teranyar, salah satu petinggi National Health Service (NHS) Inggris, Siobhan McArdle, mengundurkan diri terhitung sejak 16 September 2019. Salah satu pasalnya adalah gaji tinggi yang dirasanya tak sebanding dengan pengorbanan pribadi yang diberikannya. Mengutip The Sun, McArdle diketahui berpendapatan 300 ribu euro atau sekitar Rp4,6 miliar per tahun.

Apa yang terjadi pada McArdle menggambarkan bahwa gaji dan jabatan tinggi tak menjamin membuat seseorang bahagia dan betah berada dalam perusahaan.

Gaji besar akan memberikan tuntutan yang lebih besar. Para pekerja khawatir bahwa gaji dan jabatan tinggi hanya akan memicu lebih banyak stres dan berkurangnya waktu pribadi.

"Banyak orang ingin menghasilkan banyak uang, tapi manfaat dari memiliki penghasilan tinggi juga masih belum jelas," ujar ahli ekonomi, Kahneman. Penghasilan yang tinggi, lanjutnya, membuat seseorang kurang mampu menikmati hal-hal kecil dalam hidup.

Gaji tinggi tanpa didukung beragam faktor pendukung lain pun dirasa percuma. Misalnya saja budaya perusahaan yang tak menyenangkan. Tanpa disadari, budaya kerja yang buruk bisa menjadi 'racun' bagi para karyawan.

Salah satunya adalah budaya kerja yang kurang fleksibel. Masih banyak perusahaan yang menilai buruk kebiasaan seorang karyawan yang bekerja dari rumah. Kebanyakan perusahaan menganggap sistem kerja demikian tak produktif.

Padahal, bisa saja seseorang perlu melakukan beberapa hal pribadinya yang tak bisa ditinggalkan. Hal itu pula yang kemudian membuat pekerja merasa tertekan.

Perlu diketahui bahwa jumlah jam kerja tak berhubungan dengan output yang dihasilkan.

Kebiasaan untuk mengolok-ngolok pekerja berkinerja rendah di depan umum juga jadi salah satu faktor. Hal itu tak akan membuat mereka memperbaiki kesalahannya. Alih-alih mencapai perbaikan, justru kebencian lah yang akan timbul dari kebiasaan tersebut.

Artikel Asli

Perhatian

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Katuju.id. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.