Anak Muda Jangan Alergi Politik, Percintaan Pun Harus Menggunakan Cara Politik

Katuju.id - Anak muda atau yang lebih dikenal generasi milenial jangan melulu mengurusi soal shopping atau soal model rambut. Jangan juga cuma mau mengurusi soal jalan-jalan dan tempat nongkrong mana yang belum ditongkrongin. Kalau mau lihat anak muda ngurusi politik, nah kegiatan katuju.id di Atrium BIGMall tadi siang mungkin bisa kalian ambil contoh. 


Usianya masih muda. Belum ada yang kepala 3. Tapi isi otaknya keren bro. Lulusan perguruan tinggi luar negeri. Ada juga yang sudah menjadi direktur perusahaan media di usia yang relatif masih sangat muda. Dia adalah Faldo Maldini. Kini menjabat Wasekjen DPP PAN dan CEO dari pulangkampuang.com. Usianya masih 28 tahun. Satunya lagi, Farid Nurrahman. Usianya 28 tahun. Juga sebagai dosen di Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Keduanya sama-sama pernah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di London, Inggris. Dan terakhir adalah Ahmad Ridwan. Kini menjabat Direktur Utama Samarinda TV (STV). 


Ketiganya didaulat sebagai pembicara pada diskusi tentang politik. Peserta diskusinya kalangan aktivis kampus dan sejumlah pelajar di Kota Samarinda. 

Bagaimana tanggapan mereka tentang politik? “Anak muda itu cuma jadi korban politik. Kan sayang kalau bukan anak mudanya sendiri yang harus terjun ke dunia politik. Kok mau dijadikan korban?” kata Faldo dengan gaya bicara yang cukup akrab. 


Lain lagi yang disampaikan Farid. Pria asal Kutim yang pernah gagal mencalonkan diri sebagai Bupati Temenggung di detik-detik terakhir pada Pilkada serentak tahun ini, punya persepsi berbeda ketika bicara politik.

“Anak muda jangan antipasti. Minimal pilih (pemimpin) yang mudaratnya kecil, kalau tidak bisa menemukan manfaatnya,” kata CEO Ruangku Space Working ini. 


Sementara itu, Wawan (sapaan Achmad Ridwan) cukup berapi-api dan sedikit tegang ketika menyampaikan materi tentang politik di hadapan generasi milenial Samarinda. Tapi di akhir sesi diskusi dia mengatakan begini: anak muda jangan alergi politik. Karena terkadang percintaan pun harus menggunakan cara-cara politik. Tak ayal, celetukan ini direspons dengan senyum malu-malu anak muda Samarinda.

Ratusan peserta yang memadati ruang utama mal terbesar di Kaltim ini pun begitu antusias ketika mendapat giliran memberikan pernyataan dan pertanyaan. “Kegiatan ini membangkitkan semangat untuk mengerti dan terjun ke dunia politik. Mereka (narasumber, Red) cukup menginspirasi,” kata Afri, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fekon Unmul di akhir kegiatan. 

Optimisme seketika muncul dari para generasi milenial. Semoga kelak lahir politisi-politisi berkualitas dari rahim Benua Etam yang mampu mendobrak dan berbicara banyak di tingkat pusat. Sehingga Kaltim tidak hanya dikenal dengan SDA-nya, tapi juga SDM-nya. Masih malu bicara politik?