Invasi Intimasi dari Secangkir Kopi

Katuju.id - Kopi secara kultur memang tak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Kopi identik dengan teman begadang dan lebih akrab dikonsumsi para pria serta orang-orang tua. Istilah warung kopi pun yang bahkan sempat disandingkan dengan nama grup lawak fenomenal Warkop DKI, tetap belum mampu mengangkat derajat kopi di anak-anak muda. Pelan namun pasti, kopi terus merasuk ke lapisan-lapisan masyarakat bahkan di lingkup generasi milenial saat ini.
Namun booming kopi di Indonesia betul-betul dirasa di 2015, seiring kesuksesan film Filosofi Kopi yang diapdosi dari novel berjudul serupa karangan Dee Lestari. Terutama di Kota Samarinda, efek dari film yang dibintangi Chico Jericho dan Rio Dewanto ini mampu menggiring penasaran anak-anak milenial untuk berintimasi dengan minuman pekat berkafein tersebut. Bisa kita lihat sekarang, ratusan warung kopi terus tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Penikmatnya pun tak lagi mengenal usia dan gender. Ditunjang pula dengan lahirnya Bubuhan Kopi Samarinda (BKS), sebuah komunitas para pecinta kopi Kota Tepian, yang secara massif terus melakukan edukasi.

Ramainya tempat ngopi ini pun tak pelak mengibarkan profesi barista sebagai juru racik kopi. Identik dengan anak muda, barista dianggap figur yang asik untuk diajak bergaul. Apalagi beberapa kedai atau coffeshop tidak membatasi area barnya, agar bisa dimasuki pelanggan-pelanggan yang kepo cara menyeduh kopi atau sekadar mendokumentasikan gambar dalam perangkat smartphone.

“Ibarat kata di Samarinda ini, kita kesandung aja udah nemu warung kopi,” seloroh Slamet Prayogo, pemilik perkebunan kopi Malabar yang merupakan jebolan Fahutan Unmul dalam kegiatan sertifikasi barista beberapa waktu lalu.

Sejumlah event yang berkaitan dengan kopi pun sempat digelar beberapa kali, salah satunya Kaltim Coffee Camp yang digelar awal 2016 lalu. Kegiatan yang diinisiasi oleh Malabar ini menghadirkan sejumlah nama-nama beken di jagad perkopian nasional. Di antaranya juara Indonesia Brewers Cup 2015 Ryan Wibawa, Q Grader wanita dan juri internasional pertama asli Indonesia Mira Yudhawati dan Senior Learning Manager Starbucks Indonesia Mirza Luqman. Kehadiran orang-orang hebat di acara yang berlangsung di Pantai Indah kurma Muara badak itu akhirnya memunculkan gairah baru di kalangan penggiat kopi lokal untuk bisa berbicara lebih jauh.
Sejumlah kompetisi berskala lokal pun mulai digelar, dengan beberapa di antaranya mengundang pakar-pakar kopi Indonesia. Bahkan ada pula barista-barista kita yang mencoba berkompetisi di luar daerah dan bahkan mampu mengungguli kompetitornya yang notabene berasal dari daerah yang lebih maju industri perkopiannya.

Tak berlebihan jika akhirnya kopi menjadi komoditas besar di negara ini. Sebagai negara peghasil terbesar ke-4 di dunia, kopi-kopi asal Indonesia ini diakui memiliki cita rasa dan karakter yang lebih bervariasi. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan Kepala Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kopi Indonesia Edy Panggabean ngotot agar coffe shop lokal tidak menjual biji kopi lain selain dari Bumi Nusantara.
“Kita punya kopi yang luar biasa banyak jenis dan karakternya kok, terus ngapain kalian mesti jual kopi dari luar. Misal, kita pengen kopi dari Aceh atau Toraja, nggak perlu jauh-jauh ke sana, di sini juga ada. Makanya barista-barista ini kita arahkan juga sebagai agen pariwisata, melalui kopi tentunya,” tegas Edy.

Satu hal yang positif yang bisa diambil dari kopi, adalah sifatnya yang tak mengenal sekat pergaulan. Kedai, café atau roastery secara bisnis bisa dikatakan kompetitor. Pun dalam sebuah ajang kompetisi barista, ada gengsi yang dipertaruhkan, tapi sisi humanitas yang terangkum dalam secangkir kopi tetap mampu merangkai keakraban.